
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)
Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif.
Tanyakanlah pada diri kita:
1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah SWT? Mengaku cinta kepada Allah SWT tetapi tidak merasa kemanisan berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi sangat teruja membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggan untuk hidup dengan wahyu Allah SWT? Apakah jaminan kamu mendapat pahala percuma tanpa beramal soleh? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah SWT? Infak cuma sedikit, jihad belum bersedia, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?
2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah SAW menjamin bahawa Allah SWT akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melintasi titian shirat.
3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah SWT? Dengan nikmatNya yang terlalu banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepadaNya, mendekatkan diri kepadaNya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?
4. Wahai jiwaku, sedarkah kamu ketika Allah SWT dan RasulNya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu menyangka dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan RasulNya akan bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khuatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, sisa usia makin sedikit, tabungan amal soleh masih sedikit, jaminan masuk syurga tiada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah secara istiqomah satu juz per hari atau pun kurang dari itu, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mahu bersama dirimu kerana begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tertarik untuk mengikuti kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat serta tabi’in yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan di atas adalah perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, hal yang dianjurkan oleh Allah SWT agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna.
“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu supaya kamu berfikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)

